cs@carbontrading.co.id
Nyamplung (Calophyllum inophyllum L.) merupakan spesies pohon tropis pesisir yang telah lama dikenal di kawasan Asia Tenggara, Pasifik, dan Afrika Timur. Di Indonesia, Nyamplung tumbuh alami di wilayah pesisir, dataran rendah, hingga lahan marginal dan terdegradasi. Karakter ekologisnya yang toleran terhadap kondisi ekstrem menjadikan Nyamplung sebagai salah satu spesies strategis untuk program restorasi ekosistem, terutama pada kawasan pesisir, lahan rusak, dan wilayah dengan tekanan lingkungan tinggi.
Restorasi ekosistem tidak hanya bertujuan mengembalikan tutupan vegetasi, tetapi juga memulihkan fungsi ekologis, meningkatkan ketahanan lanskap terhadap perubahan iklim, serta menciptakan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat. Dalam konteks ini, Nyamplung memiliki peran multidimensi yang sangat relevan.
Nyamplung merupakan spesies khas hutan pantai (coastal forest species) yang mampu tumbuh pada tanah berpasir, salinitas tinggi, serta paparan angin laut yang kuat. Sistem perakaran Nyamplung yang dalam dan kuat berfungsi menstabilkan substrat tanah, sehingga efektif dalam:
Mengurangi erosi pantai
Menahan abrasi dan pergeseran pasir
Meminimalkan intrusi air laut ke daratan
Oleh karena itu, Nyamplung sering direkomendasikan dalam rehabilitasi sabuk hijau pantai (green belt) sebagai bagian dari mitigasi bencana pesisir seperti badai, gelombang ekstrem, dan kenaikan muka air laut.
Nyamplung memiliki tingkat adaptasi tinggi terhadap:
Tanah miskin hara
Tanah asam
Lahan bekas tambang
Lahan gambut terdegradasi
Lahan kering dan kritis
Lahan Pasca Bencana
Kemampuan ini menjadikan Nyamplung sebagai spesies pionir dalam restorasi lahan rusak atau pasca bencana. Penanaman Nyamplung membantu memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kandungan bahan organik, serta menciptakan mikroklimat yang memungkinkan spesies lain (tanaman lokal dan tanaman hutan sekunder) tumbuh kembali secara alami.
Dalam konteks perubahan iklim, Nyamplung berperan penting sebagai penyerap karbon. Biomassa Nyamplung—baik pada bagian batang, cabang, daun, maupun sistem perakaran—menyimpan karbon dalam jumlah signifikan. Beberapa penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa:
Nyamplung memiliki potensi stok karbon yang tinggi pada fase dewasa
Penanaman skala lanskap berkontribusi pada penurunan emisi bersih (net emission reduction)
Dengan demikian, Nyamplung sangat relevan untuk program restorasi berbasis iklim seperti:
Nature-Based Solutions (NbS)
Skema karbon sukarela
Program dekarbonisasi sektor industri dan wilayah

Sebagai pohon naungan berumur panjang, Nyamplung menciptakan habitat bagi berbagai organisme, antara lain:
Serangga penyerbuk
Burung
Mikroorganisme tanah
Keberadaan Nyamplung dalam suatu lanskap restorasi berfungsi sebagai spesies fasilitator, yaitu spesies yang mempercepat pemulihan ekosistem dengan menyediakan kondisi lingkungan yang lebih stabil bagi tumbuhan dan fauna lain. Hal ini berkontribusi pada pemulihan rantai ekologi dan keseimbangan ekosistem secara bertahap.
Keunggulan Nyamplung dalam restorasi ekosistem semakin kuat karena memiliki nilai ekonomi non-ekstraktif, antara lain:
Biji menghasilkan minyak nabati (tamanu oil) untuk bioenergi dan industri non-pangan
Daun dan biomassa dapat dimanfaatkan sebagai bahan organik
Sistem agroforestry Nyamplung mendukung pendapatan masyarakat
Nilai ekonomi ini mendorong keterlibatan masyarakat lokal dalam pemeliharaan pohon, sehingga restorasi tidak bersifat sementara, tetapi berkelanjutan secara sosial dan kelembagaan.
Berdasarkan karakter ekologis, manfaat lingkungan, dan nilai sosial-ekonomi, Nyamplung memenuhi prinsip utama restorasi ekosistem modern, yaitu:
Memulihkan fungsi ekologis
Meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim
Mendukung kesejahteraan masyarakat
Berkelanjutan secara ekonomi dan kelembagaan
Oleh karena itu, Nyamplung sangat tepat digunakan sebagai spesies kunci (key species) dalam program restorasi ekosistem terpadu, termasuk pada skema agroforestry, rehabilitasi DAS, restorasi pesisir, dan proyek dekarbonisasi berbasis alam.
Baral, B., et al. (2022). Bioenergy for landscape restoration and livelihoods. CIFOR–ICRAF.
Leksono, B. (2010). Nyamplung (Calophyllum inophyllum L.) untuk hutan tanaman energi dan rehabilitasi lahan. FAO / FORDA.
Ulya, N. A., et al. (2022). The case of tamanu oil development in degraded peatland. Sustainability.
Daud, M., et al. (2019). Carbon stock estimation of Calophyllum inophyllum plantations.
FAO (2018). Coastal forest rehabilitation and green belt development guidelines.
Agroforestri Nyamplung (Calophyllum inophyllum) sebagai pusat solusi lingkungan, energi, ekonomi, sosial, dan kebijakan global dalam konteks dekarbonisasi dan pembangunan berkelanjutan.
Agroforestri Nyamplung berkontribusi langsung pada pemulihan dan peningkatan kualitas lingkungan melalui:
Keanekaragaman hayati (Biodiversity)
Sistem agroforestri menciptakan struktur vegetasi berlapis yang meningkatkan habitat flora dan fauna, dibandingkan sistem monokultur. Hal ini berkontribusi pada stabilitas ekosistem jangka panjang.
Dekarbonisasi (Decarbonization)
Pohon Nyamplung menyerap CO₂ melalui fotosintesis dan menyimpannya dalam biomassa (batang, akar, daun) serta tanah. Agroforestri diakui sebagai salah satu solusi berbasis alam (Nature-Based Solutions) untuk mitigasi perubahan iklim.
Rehabilitasi lahan kritis
Nyamplung mampu tumbuh di lahan marginal, pesisir, dan tanah terdegradasi, sehingga efektif untuk rehabilitasi lahan kritis, pengendalian erosi, dan perbaikan struktur tanah.
Agroforestri Nyamplung dapat menciptakan nilai ekonomi yang berlapis dan berkelanjutan:
Sumber energi terbarukan bernilai tinggi
Biji Nyamplung menghasilkan minyak non-pangan yang dapat diolah menjadi biodiesel dan bioenergi, tanpa mengganggu ketahanan pangan.
Multiple income streams (pendapatan majemuk)
Pendapatan dapat diperoleh dari:
Minyak biji Nyamplung (biofuel)
Produk turunan (biochar, kosmetik, farmasi)
Hasil non-kayu
Jasa lingkungan
Perdagangan kredit karbon (Carbon Credit Trading)
Serapan karbon dari agroforestri dapat dihitung, diverifikasi, dan diperjualbelikan di pasar karbon sukarela maupun kepatuhan, menambah nilai ekonomi tanpa eksploitasi sumber daya tambahan.
Agroforestri Nyamplung memberikan manfaat langsung bagi masyarakat:
Ketahanan sosial dan pangan
Sistem agroforestri meningkatkan diversifikasi produksi dan pendapatan, sehingga memperkuat ketahanan masyarakat terhadap krisis ekonomi dan iklim.
Pemberdayaan ekonomi masyarakat
Masyarakat lokal menjadi aktor utama sebagai petani, pengelola, dan produsen bioenergi, bukan sekadar buruh atau penerima dampak.
Keadilan iklim dan energi (Climate & Energy Justice)
Akses terhadap energi bersih berbasis lokal mengurangi ketimpangan energi, khususnya di wilayah terpencil dan tertinggal.
Agroforestri Nyamplung berkontribusi pada sistem energi nasional melalui:
Stabilitas energi di wilayah terpencil
Bioenergi lokal mengurangi ketergantungan pada BBM fosil dan distribusi energi jarak jauh.
Kemandirian energi nasional
Produksi biofuel berbasis sumber daya domestik mendukung transisi energi dan ketahanan energi nasional.
Efisiensi produksi dan diversifikasi produk
Teknologi pengolahan Nyamplung mendorong inovasi industri hijau dan efisiensi rantai nilai bioenergi.
Pada tingkat global dan kebijakan, agroforestri Nyamplung memberikan:
Kontribusi terhadap Paris Agreement dan SDGs
Mendukung target NDC, mitigasi emisi, adaptasi iklim, serta SDGs (SDG 7, 13, 15, dan 8).
Peran strategis dalam diplomasi energi hijau
Negara pengembang bioenergi dan karbon kredit memiliki posisi tawar dalam kerja sama iklim global.
Daya tarik investasi hijau dan ESG
Agroforestri Nyamplung memenuhi kriteria Environmental, Social, and Governance (ESG), sehingga menarik investor hijau global.

Nair, P. K. R. (1993). An Introduction to Agroforestry. Dordrecht: Kluwer Academic Publishers.
IPCC. (2022). Climate Change 2022: Mitigation of Climate Change. Contribution of Working Group III to the Sixth Assessment Report. Cambridge University Press.
FAO. (2016). Agroforestry for landscape restoration. Food and Agriculture Organization of the United Nations.
Jose, S. (2009). Agroforestry for ecosystem services and environmental benefits: an overview. Agroforestry Systems, 76, 1–10.
Kumar, A., & Sharma, S. (2011). Potential non-edible oil resources as biodiesel feedstock: An Indian perspective. Renewable and Sustainable Energy Reviews, 15(4), 1791–1800.
Atabani, A. E., et al. (2013). A comprehensive review on biodiesel as an alternative energy resource and its characteristics. Renewable and Sustainable Energy Reviews, 16(4), 2070–2093.
Ministry of Environment and Forestry of Indonesia (KLHK). (2021). Indonesia’s Forestry and Other Land Use (FOLU) Net Sink 2030.
UNEP. (2021). Nature-Based Solutions for Climate Change. United Nations Environment Programme.
World Bank. (2020). State and Trends of Carbon Pricing. Washington, DC.
Sachs, J. D. (2015). The Age of Sustainable Development. Columbia University Press.
COP 30 di Belem Brasilia :
https://youtu.be/IvhB2uhKJ0Q?si=CJL2CoskNTIWqiPk
OSAKA EXPO JAPAN :
https://www.expo2025.or.jp/en/expo-archive/theme-weeks/program/detail/67247e60a577d.html
© PT. Pandu Wijaya Negara. All Rights Reserved.